Literasi

Ragam Bandung dalam Bait: Sebuah Catatan Perjalanan

Foto Penulis

M. Ahsanul Umam, S.Pd.

Penulis
Selasa, 03 Maret 2026

MPUIN-News

Oleh: Alvian Rivaldi Sutisna



Bandung tak sekadar kota tujuan wisata. Ia adalah ruang pengalaman, ruang belajar, sekaligus ruang tafakur bagi para murid Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Dari sanalah lahir Bandung dengan Segala Isinya, sebuah antologi pantun teka-teki yang terbit pada 2026 menjadi warna baru dalam khazanah literasi madrasah.


Ratusan murid kelas VIII terlibat dalam proses kreatif yang tidak singkat. Mereka tidak hanya menulis, tetapi juga menempuh tahapan pembelajaran yang sistematis. Penguatan materi pantun diberikan kembali, memperdalam pemahaman mereka tentang rima, sampiran, isi, serta kekhasan pantun teka-teki sebagai warisan sastra Melayu.


Proses penyusunan buku ini melibatkan kolaborasi lintas unsur: manajemen madrasah, seluruh guru Bahasa Indonesia, hingga pihak perpustakaan. Kurasi dilakukan secara ketat melalui surat pernyataan keaslian karya dan pengecekan dengan aplikasi anti-plagiarisme. Standar ini menjadi penting, agar karya yang lahir benar-benar mencerminkan integritas akademik sekaligus kreativitas personal.


Bandung sebagai Laboratorium Imajinasi


Bandung dipilih sebagai inspirasi tunggal. Namun, inspirasi itu tidak berhenti pada romantisme kota. Para murid diajak menyelami Bandung secara langsung melalui perjalanan edukatif dua hari satu malam.


Bale Pare


Di Bale Pare, ruang publik kreatif di kawasan Kota Baru Parahyangan, murid belajar bahwa ruang terbuka bisa menjadi pusat perjumpaan ide, seni, dan kebudayaan.


Puspa IPTEK Sundial


Di Puspa IPTEK Sundial, sains menjadi pengalaman konkret. Jam matahari raksasa itu bukan sekadar ikon, tetapi simbol dialog antara tradisi waktu dan modernitas ilmu pengetahuan.


Museum Geologi Bandung


Sementara di Museum Geologi, mereka menyelami sejarah bumi, memahami fosil, bebatuan, dan dinamika geologis Nusantara. Dari ruang-ruang inilah lahir pantun yang memotret dunia geologi, kuliner, histori, budaya, sains, alat musik, hingga lanskap kota.


Selama dua hari satu malam, murid tidak hanya berwisata, tetapi mengamati, mencatat, dan merenung. Pengalaman empirik itu kemudian ditransformasikan ke dalam bait-bait pantun—genre yang mungkin terasa jauh dari generasi digital. Namun justru di situlah tantangannya: menghidupkan kembali tradisi dalam bahasa yang segar dan kontekstual.


Estetika dan Identitas


Daya tarik buku ini tidak berhenti pada isi. Aspek visual turut menjadi kebanggaan. Desain sampul dikerjakan oleh dua murid kelas VIII B, Lintang Katon Danunendra dan Devia Putri Pratiwi. Melalui proses diskusi dan eksplorasi visual, mereka merangkum objek-objek khas Bandung dalam ilustrasi depan dan belakang yang menyatu secara estetis.


Buku ini juga memperoleh testimoni dan apresiasi dari penyair Thailand, penyair nasional, serta kalangan akademisi. Dukungan tersebut menegaskan bahwa karya pelajar pun mampu menembus batas lokal dan diapresiasi dalam lanskap literasi yang lebih luas.


Pada akhirnya, Bandung dengan Segala Isinya bukan sekadar kumpulan pantun teka-teki. Ia adalah catatan perjalanan, dokumentasi pembelajaran, dan bukti bahwa literasi bisa tumbuh dari pengalaman langsung. Bandung diabadikan dalam bait, dan para murid menemukan suaranya sendiri di antara rima dan makna.


Selamat menjelajahi Bandung lewat untaian pantun.